girl with broken glasses

Cerita biasa tentang Seorang Gadis Berkacamata

Seorang gadis berkacamata terduduk sendiri di pojok ruangan. Kelihatannya, tidak ada yang mengganggapnya ada. Namun gadis itu sudah nampak tidak peduli, dia mencoba fokus mengerjakan tugas yang baru saja diberikan tadi, sambil sesekali membetulkan kacamatanya yang sudah retak. Sesekali dia juga melihat jam dinding, sampai akhirnya bel berbunyi tanda istirahat akan berakhir. Tak lama kemudian beberapa gadis mendekatinya, salah seorang diantara mereka menarik tugas yang telah diselesaikannya. Dia hanya bisa diam, dia tahu melawan hanya menambah masalah baginya. Seorang guru masuk saat semua itu terjadi. Guru itu melihatnya, namun tak sanggup menghentikan putri donatur sekolah. Sudah susah payah baginya untuk diangkat menjadi seorang wali kelas.

Pelajaran berlangsung seperti biasa, murid- murid tertidur dan beberapa saling mengobrol. Guru itu melihatnya, namun dia teringat kasus yang menimpa kawannya dan hanya diam. Hanya gadis berkacamata tadi yang memperhatikan guru itu, sambil menulis semuanya di buku catatannya yang penuh dengan sobekan. Dia melakukan itu semua meski dia tahu, “temannya” akan menghampirinya dan menyobek buku catatannya untuk dibawa pulang. Sekali pernah gadis itu melapor kepada orang tuanya. Tapi jelas orang tuanya juga tidak bisa melakukan apapun kepada putri tunggal bos di pabrik mereka bekerja. Orang tuanya hanya bisa memintanya untuk bersabar. Pindah sekolah juga tidak mungkin dia minta, karena dia tahu betapa susah orang tuanya.

Gadis itu bukannya tidak bisa berteman, ada saatnya dimana “teman sekelasnya” masih mau bermain bersamanya. Saat sebelum pembagian raport yang mengumumkan bahwa dia adalah juara satu. Suatu prestasi yang membuat putri donatur sekolah dimarahi habis- habisan oleh orang tuanya, karena kalah dari putri buruh upahannya. Jelas ini yang membuat putri donatur sekolah memusuhinya, dan sang putri punya segalanya untuk melakukannya. Namun meski segala cara dilakukan gadis ini masih juga juara satu, dan itu membuatnya semakin disiksa. Seperti guru tadi, ataupun orang tuanya, kepala sekolah tahu namun juga tidak dapat melakukan apapun. Waktu berlalu dengan cepat, dan syukurlah gadis ini dapat melewati segalanya. Sekarang setidaknya dia telah damai dan tidak akan bisa merasakan beban lagi. Sang putri donatur akhirnya juga mendapatkan juara pertama yang diimpikannya. Semua bisa dianggap berakhir bahagia. Meski ada yang menangis, namun itu seperti simpati sesaat. Karena semuanya diam, dan menyuruhnya bersabar, saat gadis itu menangis setiap malamnya. Sebuah cerita biasa.

Share jika Anda tertarik: