Golden box with santas hat in middle of world

25 Desember

Hari itu aku sudah bangun di pagi hari, memang sudah menjadi kebiasaanku bangun pagi meski di hari libur. Pagi itu nampaknya biasa saja, suatu hal yang cukup aneh bagiku apabila mengingat tahun lalu dan tahun- tahun sebelumnya. Hari ini 25 Desember hari yang seharusnya cukup spesial, hari dimana banyak orang bertemu dengan orang- orang yang mereka sayangi dan merayakan kebersamaan meski hanya dalam 1 hari ini dalam setahun. Hari dimana toko- toko memberikan banyak diskon, bahkan kepada Mereka yang tidak merayakannya. Pandemi tahun ini memang membuat semuanya tidak bisa berjalan sesuai yang diinginkan. Aku memang bukan orang yang memiliki banyak teman untuk berkumpul dan berpesta seperti yang lain, sehingga aku tidak peduli hal seperti itu.

Hari sudah hampir siang, kira- kira pukul 10 lewat, dan aku masih berada di tempat tidurku. Entah kenapa dari pagi aku mengenang 25 Desember yang kulalui tahun- tahun yang lalu. Aku masih ingat dulu ketika aku kecil,saat di pagi hari, aku sudah berada di tempatku biasa berdoa, dan setelah upacara selesai dilakukan, kami yang masih anak- anak akan berkumpul di aula untuk melakukan pembagian hadiah. Hadiah dibagikan oleh seorang pria gendut berjenggot putih yang selalu berbeda setiap tahunnya. Entah mungkin ada seragam khusus bagi mereka dengan pakaian serba merah, pikirku saat itu. Meski hadiahku dibagikan oleh kakek itu, aku sebenarnya tahu kalau orangtuaku yang memberikan hadiah itu. Aku tak sengaja melihat ayahku membungkus sebuah sepatu dalam sebuah kado, yang persis sama dengan yang kuterima dari pria gendut itu. Meski demikian, seperti temanku yang lain, aku berpura- pura tidak tahu, dan menampakkan wajah bahagia dan berterimakasih saat kubuka kadonya. Meski sepatunya persis sama dengan yang dibungkus ayahkua. Lalu aku akan duduk di pangkuan kakek gendut itu diberi permen- permen enak. Sungguh masa kecil indah yang terjadi sekelebat saja.

Aku sendiri sadar Itu semua hanya kenangan masa kecil, dan sekarang cukup aneh apabila aku masih berharap hal seperti itu. Aku mencoba bangun dari tempat tidurku, dan melihat sesuatu yang cukup aneh. Sebuah kado emas ditutup topi seperti yang dipakai pria gendut berjenggot putih, diletakkan di ujung kamarku. Aku tinggal sendiri di kamar apartemenku dengan pintu dan jendela yang tertutup rapat. Menurutku, tidak mungkin seorang pencuri meletakkan sebuah kado bukan? Aku segera mengecek keseluruh ujung ruangan, menurutku tidak ada tanda orang masuk atau sesuatu yang hilang. Tidak ada satupun yang aneh, kecuali kado ini. Aku mencoba menghubungi keamanan di apartemenku untuk sekedar mengecek CCTV, tapi tidak ada satupun yang masuk atau keluar dari kamarku. Aku mencoba mendekatinya pelan- pelan karena takut mungkin saja isinya meledak. Dari dekat aku bisa membaca sebuah tulisan pada kado itu.
“Jangan takut, ini hanya sebuah hadiah untuk anak baik. Harap dibuka hanya jika kau tahu arti sebenarnya hari ini”.

Sebuah tulisan yang menurutku aneh, memang apa bedanya aku buka sekarang dan nanti? Ada keinginan dariku untuk segera membuangnya dari jendela apartemenku, namun aku juga penasaran tentang kotak itu, tapi juga tak berani melangkah lebih dekat. Saking bingungnya diriku, kuputuskan untuk kembali berbaring, aku ambil ponselku, dan melihat video- video lucu di ponselku, untuk menghilangkan penat dari hari kerjaku. Banyak sekali video- video orang yang merayakan hari ini, atau orang yang berdebat tentang melarang merayakan hari ini, hal- hal yang biasa, benar- benar tidak ada yang spesial. Sesekali aku memandang kado itu, itu masih ada disana. Beberapa kali aku coba mendekatinya namun kuurungkan niatku, aku takut. Jika memang aku membukanya, aku berharap isinya sepadan dengan rasa penasaranku yang kutahan selama berjam- jam ini.

Tanpa kusadari setelah menonton beberapa film dan video, hari sudah sore. Memang kegiatan yang kulakukan sangat bodoh untuk mengisi hari libur, tapi aku juga tidak tahu apa yang bisa kulakukan di saat pandemi seperti ini. Selagi mengisi ulang baterai ponselku, aku melihat kebawah dari jendela apartemenku. Hal yang sangat sering kulakukan untuk sekedar mengobati mataku yang cukup lelah, karena menonton ponselku berjam- jam. Aku tinggal di lantai 20 di apartemen ini, cukup tinggi untuk bisa melihat keadaan sekitar. Dari sini aku bisa melihat jalanan yang cukup sepi dibandingkan tahun- tahun sebelumnya. Jika biasanya banyak mereka yang mendekor pohon untuk merayakan hari ini, sekarang hampir tidak ada seorang pun di jalan. Sudah lama aku tidak meninggalkan kamar apartemenku, memang beruntung pekerjaanku memperbolahkanku bekerja dirumah bahkan sebelum pandemi ini. Makanan sehari- hari juga diantarkan oleh catering langgananku, yang selalu kupesan apabila dulu aku malas keluar untuk makan. Sekarang aku memesannya setiap hari. Menurutku selain jalan- jalan, hidupku tidak ada bedanya selama masa pandemi ini.

Aku masih melihat kado itu disana, sebuah kado yang bahkan aku sangat takut untuk menyentuhnya. Rasa takut yang sama dengan ketakutanku untuk sekedar menghubungi keluargaku kembali atau merayakan hari ini bersama mereka. Sesuatu yang menurut orang lain seharusnya sangat sederhana, namun bagiku lebih susah dari apapun. Aku memang benci kepada mereka, keluarga yang sangat tidak kuharapkan yang mengusirku hanya karena aku tidak melakukan apa yang mereka katakan. Aku yakin, mereka memaksaku menjadi dokter hanya untuk memuaskan cita- cita mereka yang tidak kesampaian. Sementara aku lebih memilih hobiku menjadi seorang komikus, menjalani apa yang aku sukai. Sampai sekarang, aku masih membenci ayahku yang mengusirku karena tidak menurut, apakah karena alasan seperti itu mereka layak mengusirku? Ibuku juga setuju dengan pendapat ayah dan tidak berusaha menahanku juga. Yang jelas sejak saat itu aku berganti nomor ponsel, dan pergi sejauh- jauhnya dari rumah. Beruntung aku berhemat cukup banyak sejak kecil sehingga tabunganku sangat cukup untuk melakukan semua yang kuinginkan. Aku tahu memang uang yang kudapatkan dari kerjaku sebagai komikus hanya cukup untuk makan sehari- hari dan menyewa apartemen di pinggir kota seperti ini. Namun pandemi ini membuatku bersyukur, menurutku aku sudah tewas jika aku menuruti mereka menjadi dokter, aku sadar diriku gampang sekali sakit.

Setelah merenung beberapa waktu, tanpa kusadari hari telah malam, dan aku sudah ingin tidur. Besok adalah hari sabtu, namun meski bagi banyak orang besok masih libur. aku masih harus bekerja menyelesaikan komik yang kubuat. Aku akhirnya tidur. Ketika aku bangun kembali hari sudah kembali terang, seperti biasa aku bangun pagi. Ketika bangun yang terlintas dipikiranku adalah kotak hadiah itu. Aku benar- benar lupa akan kotak itu semalam, padahal aku berniat membukanya sebelum tidur. Saat kulihat, kotak itu sudah tidak ada lagi disana. Yang ada hanya sebuah amplop emas, tanpa tulisan penerima atau pengirim. Aku dengan cepat kembali mengecek kamar apartemenku dan menghubungi keamanan apartemen untuk mengecek CCTV. Dia cukup merasa terganggu karena sekali lagi dia mengecek dan tidak ada apapun yang dia temukan. Aku akhirnya membuka isi amplop itu, hanya ada sebuah surat yang ditulis dengan pena merah.
“Mohon maaf, namun hadiah kami hanya untuk mereka yang dapat memahami maknanya, semoga tahun depan Anda bisa memahaminya”.
Aku tidak berkata apa- apa setelah membaca semua itu, aku memang belum memahami artinya. Akhirnya aku melanjutkan hari ini seperti biasa, dengan menganggap yang kulihat kemarin hanya halusinasiku.

Share jika Anda tertarik: