A last letter to his Mom

Kasih Terakhir

Seorang pemuda nampak sedang duduk sambil menulis surat kepada ibunya. Wajahnya tampak tersenyum dan tangannya dengan semangat menulis tiap kata untuk mengabari keluarganya di desa.
“Bu, bagaimana kabarnya? sehat- sehat saja bukan? aku disini sehat dan baik- baik saja selain itu aku punya kabar baik untuk Ibu, apakah Ibu ingat tentang rencana yang aku sampaikan bulan lalu? mungkin ini mengagetkan, tapi aku berhasil mewujudkannya Bu, tidak lama lagi Ibu dapat tinggal bersamaku disini dan sudah tak perlu khawatir untuk terus merepotkan paman dan bibi lagi, doakan semua berjalan lancar Bu, dan aku akan menjemput Ibu sebelum bulan depan. Dari putramu satu- satunya”.

Dengan semangatnya pemuda itu membungkusnya dalam sebuah amplop putih kecil dan bergegas ingin mengirimkannya. Diberikannya sepucuk surat itu kepada tukang pos yang kebetulan sedang berkeliling dengan sepeda tuanya, sebelum pemuda itu pergi bekerja dan memulai harinya. Pemuda itu mencoba membayangkan wajah ibunya saat mendapatkan kabar ini darinya, dia pasti sangat bahagia, pikirnya. Ibunya memang sudah tua, keseharian beliau hanya menghabiskan waktunya dengan duduk di kursi goyang sambil melakukan hobinya, merajut. kedua matanya memang belum lama memburuk, sehingga dia sudah tidak bisa membaca surat putranya, seperti yang sering dia lakukan, namun hasil rajutannya masih nampak sangat rapi.

Tak terasa hari berganti dengan sangat cepat, semua yang diharapkan pemuda itu terwujud sesuai rencananya.
“Ini karena restu dan doa ibuku.” pikirnya.
Tepat sesuai janjinya, hari itu dia sudah bersiap berangkat menjemput ibunya di desa.
“Kamar sudah siap, semua sudah siap, Ibu pasti menyukainya.” pikirnya sambil tersenyum.
Maka pemuda itu berangkat ke stasiun untuk memulai perjalanan ke desa.

Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 4 hari, namun semua berjalan dengan lancar. Lamanya perjalanan itu membuat pemuda ini berpikir mungkin saja di masa depan kita bisa terbang sehingga perjalanan hanya memakan waktu 1 jam, dan mungkin kereta bisa melaju secepat suara. Setelah beberapa hari perjalanan, sampailah dia pada malam hari di stasiun dekat desanya, sehingga ia perlu sedikit berjalan menuju rumahnya. Rumahnya memang tidak jauh dari stasiun, namun sebuah firasat yang aneh terasa saat pemuda itu semakin mendekati rumahnya. Suasana nampak lebih sepi dibanding yang dia ingat. Dia yakin, ibunya selalu menyalakan lampu rumah dengan sangat terang meski paman dan bibinya sering mengeluh itu adalah pemborosan. Namun suasana rumahnya sekarang tidak terang seperti biasanya. Diketuknya pintu rumah cukup lama.
“Wajar jika mereka sudah tidur, aku juga sampai terlalu malam” pikirnya.

“Siapa?” tanya suara wanita tua dari dalam rumah itu.
“Keponakanmu satu- satunya, Bibi” jawab pemuda itu.
Pintu dibuka, dan bukannya terlihat senang tetapi bibinya hanya memandang pemuda itu dengan rasa aneh.
“Tidak mungkin, bagaimana kamu disini? bukankah kamu..”
“Bibi, kenapa? apa yang salah? Aku hanya datang seperti biasa dan menjemput Ibu, Bibi”
“Ada apa sayang?” Pamannya nampak keluar dari kamarnya, dan juga melihat pemuda itu dengan keherananan.
Mereka bertiga saling berpandangan beberapa saat, sebelum akhirnya pemuda itu menanyakan apakah Ibunya sudah tidur.

Bibi dan pamannya tidak menjawab pertanyaannya, dan mengantar pemuda itu ke kamar ibunya. Tidak terpikir apapun selama pemuda itu melewati kursi goyang favorit ibunya, yang masih bergoyang karena tertiup angin malam, dengan benang rajut masih rapi disana. Bibinya mengambil sepucuk amplop yang nampak basah, namun dengan isi yang masih dapat dibaca tergeletak di sudut meja.
“Ibu, apakah Ibu ingat tentang rencana yang aku sampaikan bulan lalu? aku tidak berhasil mewujudkannya Ibu, maafkan putramu sehingga kita harus terus merepotkan paman dan bibi. Aku hanya bisa memohon maaf kepadamu Ibu, Dari putramu satu- satunya.
PS: Bibi, tolong jangan sampaikan ke Ibu karena saat kau membaca surat ini, mungkin saat ini aku sudah tidak ada di dunia ini.”

Demikianlah Isi surat tersebut. Pemuda itu tahu, tulisan itu bukan tulisannya namun dia juga tidak tahu apa yang bisa diperbuatnya sekarang. Yang dia tahu dari cerita bibinya, Ibunya pingsan sebelum menghembuskan nafas terakhirnya saat surat itu dibacakan olehnya. Bibinya juga merasa bersalah karena langsung membaca surat itu saja, tanpa memperhatikan tulisan tangannya, Memang Ibunya lah yang memintanya segera membacakan surat itu ketika tukang pengantar surat datang.

…………..

Beberapa pegawai pos nampak berkumpul sambil bercakap di sebuah kantor pos.
“Sial sekali aku hari ini, apa kau tahu? kamarin sepeda tuaku tergelincir saat hujan, banyak surat yang jatuh sehingga tak bisa terbaca lagi alamat pengirimannya” Ucap seorang pengantar pos kepada rekannya. “Nampaknya gaji bulan ini aku pakai untuk sepeda baru”.
“Wah, sial sekali, lalu bagaimana dengan surat- suratnya?” Ucap temannya.
“Tenang, aku adalah pegawai yang handal, aku sudah mencatat tujuan pengirimanku dengan baik, dan jika ada yang tertukar juga paling apa sih efeknya. Aku juga sudah mengecek semua isinya, tidak ada barang, cek atau uang di dalam surat- surat itu”.
Dan mereka melanjutkan percakapan sambil terus bercanda dan bergosip.

Share jika Anda tertarik:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.