blind love blind hatred

Sebuah cerita tentang Cinta, Kesetiaan, dan Kebencian

Sebuah Kisah, terinspirasi dari Puisi Loyalty, oleh Aleesha: http://guacle.site/loyalty

Bagiku cinta itu kesetiaan, dan kesetiaan itu cinta. Mungkin hal ini berlawanan dengan pendapat teman- temanku yang bermimpi merasakan bermain dengan seluruh wanita cantik di dunia. Aku tidak menepis jika mereka berkata aku bodoh soal cinta, aku tidak peduli. Hidupku cukup sederhana, dan aku bahagia. Sebuah apartemen yang cukup untuk aku tempati berdua bersama istriku, orang yang paling aku cintai. Memang nasib belum mengijinkan kami memiliki buah hati, namun tidak apa. Aku cukup senang saat mendengar temanku mengeluh tentang dia dan istrinya yang terjaga setiap malam untuk merawat bayinya.

Hari ini telah malam, dan hujan sedang turun. Memang hari ini cukup berat sampai aku pulang hampir tengah malam. Aku lihat istriku sudah tidur, dan aku tidak ingin membangunkannya. Ini memang bukan pertama kalinya aku pulang sangat larut, sehingga aku tidak memaksanya untuk selalu menungguku. Dia juga punya pekerjaan esok hari. Sembari bersiap tidur, aku memandang ke jendela apartemenku yang penuh dengan embun karena hujan. Hujan selalu mengingatkanku saat hari aku pertama melihatnya. 6 tahun lalu di sebuah halte, saat aku melihatnya kebingungan mencari payungnya yang tertinggal. Halte itu memang dekat dengan rumahnya. Aku coba tawarkan payungku sambil kulihat matanya, saat itu tiba- tiba aku merasa tahu dia adalah takdirku.

Bersama dengannya selama 6 tahun ini tidaklah mudah. Terutama sejak keluargaku tahu kalau ayahnya adalah seorang napi, yang meninggalkan dia dan ibunya tanpa jelas bagaimana kabarnya sampai sekarang. Semua tidak cukup sampai disitu, kebencian keluargaku juga memuncak sejak tahu demi menghidupi dia, ibunya juga menjadi wanita malam dan meninggal akibatnya. Namun bagiku itu bukan salahnya, dan aku tidak peduli hal itu. Aku merasa dia wanita yang kuat, mungkin jika aku berada di posisinya, aku tak akan sanggup. Keluargaku menentang pernikahan kami, dan tidak akan menganggapku apabila aku bersama dengannya. Saat itu tanpa pikir panjang aku keluar rumah, tanpa membawa apapun. Sungguh kenangan yang selalu membuatku tertawa setiap kali mengingatnya.

Hujan sudah tinggal gerimis, tanpa sadar waktu berlalu selagi aku melamun mengenang masa laluku. Sebuah getaran ponsel membuyarkan lamunanku, nampaknya ponsel istriku. Getaran itu cukup menggangguku sehingga aku mendekat untuk mematikannya. Paman, sebuah nama kontak yang nampaknya aneh karena aku mengenal kalau istriku sebatang kara. Lalu sebuah pesan muncul, paman ini mengiriminya sesuatu.
“Hei, apa besok dia lembur lagi? aku tahu kamu kurang puas tadi, mungkin besok aku bawa obat kuat”.
Tidak butuh sedetik untuk pesan itu menguasai pikiranku, sekarang aku memandang wanita ini dengan jijik. Tanpa habis pikir aku ambil bantal yang ia pakai dan menutup wajahnya. Nampaknya dia terbangun, dan sebentar berusaha melawan, namun tak lama dia sudah tidak bergerak lagi. Sesaat setelah itu aku menyadari semuanya, perubahan sikapnya, aroma asing di kamar ini, dan pakaian pria yang bukan milikku. Semua terjadi begitu saja seperti membuka mataku yang selama ini tertutup. Aku sadar selama ini, cinta dan kesetiaan membuatku buta.

Share jika Anda tertarik: