ibu marah

Sebuah cerita tentang Seorang Anak

Seorang anak terlihat berlari, wajahnya terlihat panik. Kelihatannya dia terlambat sekolah. Padahal hari ini dia ingin berangkat lebih pagi, tugas- tugasnya belum selesai dikerjakan. Kemarin malam dia sudah memohon temannya, untuk datang lebih pagi dan menyalin jawabannya. Sekarang, dia mencoba membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya hari ini. Hal itu membuatnya ingin memarahi ibunya yang terlambat membangunkannya, jelas dia tidak ingin disalahkan karena begadang untuk memainkan game favoritnya.

Beberapa murid telah berbaris di depan gerbang saat anak ini berlari, seorang pria tua yang berwajah kejam memarahi satu persatu mereka, dan mencatat nama mereka dalam buku pelanggaran. Sempat terpikir oleh anak ini untuk berbalik saat melihat barisan murid terlambat, namun mata pria tua ini masih kuat untuk melihat anak ini dari jauh. Dia memintanya berlari lebih cepat. Rupanya teman yang ia minta datang lebih cepat juga terlambat, setidaknya dia merasa sedikit senang ada kawan yang senasib dengannya. Hukuman telah diberikan pada murid- murid yang terlambat, berlari keliling lapangan sampai pria tua tadi puas. Murid- murid sudah mengenal pria tua ini, sehingga tanpa alasan mereka mulai berlari.

Bel pulang telah berbunyi, sungguh hari yang cukup sial bagi anak ini. Lari lapangan sepuluh kali, mendapat nol karena tidak mengerjakan tugas, juga nilai merah pada ulangan yang baru dibagikan. Dia tahu ibunya pasti marah besar lagi kepadanya, sehingga dia ingin mengurungkan niatnya untuk memarahi ibunya yang membuat dia terlambat hari ini. Benar juga dugaannya, sesampainya dirumah ibunya marah habis- habisan kepadanya. Dia hanya tertunduk, layaknya mengheningkan cipta pada upacara bendera dimana murid hanya berdiri sampai waktunya selesai. Setelah menumpahkan segala amarahnya, ibunya kembali kedapur. Banyak pesanan yang harus dimasak yang tidak akan selesai jika hanya memarahi anaknya.

Seperti biasa, setelah hal itu semua anaknya akan langsung masuk kamar dan menguncinya. Dia tahu, ibunya akan meminta maaf kepadanya karena telah memarahinya, hanya untuk memaksanya makan. Anak ini juga tahu bagi ibunya, hanya dia yang dimiliki di dunia. Anak ini sudah hafal itu semua, dan menikmati bermain game favoritnya di kamarnya dengan nyaman seperti hari- hari sebelumnya. Sebuah cerita biasa.

Share jika Anda tertarik: