room psikiater

Melodia

“Dari yang saya lihat, kondisi Anda nampak lebih baik dibandingkan minggu lalu” Kataku kepada seorang pasien. Seorang wanita paruh baya, yang kehilangan suaminya dalam sebuah kecelakaan. Sampai sekarang dia sangat trauma setiap mendengar bunyi klakson mobil, hal itu adalah ingatan terakhirnya saat kecelakaan itu. Trauma seperti itu cukup malang, dan kurasa jalan kota ini yang penuh orang tidak sabaran pasti membuatnya tersiksa. Hal itu kadang membuatku bertanya, dengan apa dia bisa sampai kesini.
“Betul dokter, terimakasih sarannya selama ini. Saya sadar almarhum suami saya di surga pasti ingin saya bahagia” Kata wanita itu yang membuatku cukup senang, hal ini membuatku mengingat saat dia pertama kali diantar kesini oleh ayahnya, setelah wanita ini selalu berusaha menyusul suaminya.

Aku ingin sedikit mengutarakan pikiranku tentang hal seperti ini. Di pikiranku, manusia adalah makhluk bodoh yang dikendalikan oleh perasaan, emosi, hormon, dan alam bawah sadar sampai mereka kadang lupa untuk memakai akal sehat. Maksudku, bukankah dengan berusaha menyusul suaminya justru tidak akan bertemu selamanya dengannya? Jiwa kita akan menuju tempat hukuman karena tidak menghargai hidup kita. Lain cerita jika kalian yakin orang yang kalian susul juga masuk neraka. Aku bukan seorang yang mempunyai ilmu cukup untuk dapat berbicara tentang surga dan neraka, hanya pikiran logisku saja yang mengatakannya.

Setelah melakukan pengobatan mingguan kepadanya, maka wanita itu berpamitan pulang. Sungguh minggu yang cukup berat bagiku, berbagai pasien dengan berbagai keluhan. Langganan dan baru, sehingga kadang membuatku bertanya kenapa gangguan mental semakin meningkat akhir- akhir ini. Mungkin juga orang jaman sekarang lebih sadar tentang pentingnya kesehatan mental dibanding saat aku mulai praktekku sepuluh tahun lalu. Akupun keluar untuk bertanya kepada resepsionisku apakah wanita tadi adalah pasien terakhirku hari ini. Ya, aku sudah ingin istirahat. Bukannya aku malas, justru aku sangat mencintai pekerjaanku. Bagiku melihat wajah gembira dari seseorang yang sebelumnya kulihat depresi adalah kebahagiaan tersendiri bagiku.
“Betul dokter sudah tidak ada pasien lagi” Kata resepsionisku, sehingga aku bersiap pulang.

“Dokter, mungkin kabar gembira untuk Anda, gedung opera Anda sudah buka lagi! Aku dengar dari temanku yang dulu kerja disana dan baru ditawari untuk kembali bekerja” Kata resepsionisku yang membuatku semakin bersemangat pulang. Aku tidak sekaya itu untuk punya gedung opera, yang dia maksud adalah sebuah gedung opera favoritku, tempat dimana aku biasa bersantai setelah berjam- jam berurusan dengan berbagai gangguan mental. Tempat yang selalu aku rekomendasikan kepada semua kolega dan junior- juniorku, sehingga mereka menyebut gedung opera tua itu milikku karena terlalu banyak mempromosikannya. Aku yakin memang Sang Pencipta tahu aku butuh refreshing. Mungkin kalian bertanya kenapa? Asal kalian tahu, berurusan dengan mereka semua dapat membuatmu menjadi salah satu dari mereka. Kadang aku harus mencoba bersimpati secara total kepada mereka, untuk memberikan saran yang tepat kepada masing- masing dari mereka. Bukan hanya menjadi teman yang menyarankan mereka semua bersabar, memaksa mereka kuat. Kadang mereka terlalu lemah untuk melakukan itu semua, dan hal itu hanya memperburuk keadaan mereka

Gedung opera tua ini memang lumayan jauh dari rumah sakit tempatku bekerja. Hal itu dan kesibukanku yang membuatku bahkan tidak tahu bahwa gedung opera ini sudah kembali buka. Benar juga, aku sudah dapat melihat gedung ini bersinar ketika aku sudah dekat. Mungkin akan akan terlihat bodoh seorang pria dewasa sepertiku berlari kegirangan seperti anak yang baru mendapat hadiah, tapi sungguh seperti itulah yang kurasakan, sehingga aku akan berusaha menahan urat maluku. Memang bekas terbakar masih dapat kulihat di beberapa sisi gedung, bencana yang membuat gedung ini tidak dapat beroperasi selama lebih dari setahun. Nampaknya beberapa bagian masih belum selesai dilakukan renovasi. Ternyata jadwal pertunjukan masih seperti ketika sebelum kebakaran dulu, setelah membeli tiket petunjukan, aku menunggu jadwalnya dengan berkeliling gedung.

Beberapa langkah berkeliling, aku sudah melihat sesuatu yang paling menarik minatku. Bukan tentang opera ini maksudku, tapi wajah seorang depresi. Aku melihat gadis itu, bahkan tanpa bertanya kepadanya aku tahu bahwa dia sedang tidak baik- baik saja. Dari seragamnya, aku mengetahui dia adalah siswi salah satu SMP favorit di kota ini.
“Maaf apa kau tahu dimana letak toilet?” kataku untuk berbasa- basi kepada gadis itu.
Gadis itu melihatku dengan wajahnya yang sudah agak pucat, aku yakin dia sudah tidak dapat makan dan tidur dengan teratur karena masalahnya. Kalian bisa bilang hal seperti ini tidak baik dilakukan, bisa saja disangkanya aku pria paruh baya predator yang menargetkan gadis sekolahan. Aku jelas tahu bahwa cukup kriminal untuk mendekati dan berbicara seorang gadis tak dikenal, tapi aku sudah hafal dari gerak- gerik dan ekspresi wajahnya. Aku hanya tidak ingin gadis ini melakukan hal buruk dalam kondisinya seperti ini.
“Di ujung setelah Anda melewati lorong di kanan” katanya pelan.

Aku berpura- pura menuju toilet lalu kembali lagi. Betul dia masih ada disana, tatapannya kosong seperti banyak pasien yang aku urus.
“Terimakasih dik, kamu sering kesini ya? sampai sudah hafal” kataku berbasa- basi padanya, namun dia hanya diam.
“Kamu kenapa dik? nampaknya tidak baik- baik saja, kebetulan Oom seorang psikiater mungkin bisa membantu sedikit” kataku kepadanya sambil memberinya sebuah kartu nama. Dia agak nampak tak acuh dan memasukkan kartu namaku ke sakunya. Gadis ini masih diam saja. Aku kembali melihat gadis ini, baju sekolahnya yang tidak terlalu bersih dengan beberapa noda membuatku berpikir dia korban bullying. Jahitan namanya agak lusuh tapi aku masih bisa membacanya, nama gadis ini Melodia.
“Melodia ya, nama yang bagus. Mungkin kamu masih bingung, tapi saya hanya berniat membantu, mungkin tidak ada yang mendengarkan kamu selama ini, mungkin kamu menangis sendirian. Kamu bisa telepon saya dengan kartu nama itu atau bisa langsung datang ke rumah sakit tempat Oom kerja” Mendengar itu entah kenapa gadis ini menangis. Aku yang takut disangka macam- macam dengan gadis ini perlahan meninggalkannya, bodohnya aku yang panik ini.

Pas sekali pertunjukanku sudah hampir mulai, dan aku segera memasuki ruangan petunjukan. Sungguh suasana yang kurindukan. Meski teman- teman dan kolegaku lebih suka ke bioskop atau menonton film, bagiku tidak ada yang lebih membuatku senang daripada pertunjukan opera. Kursi penonton telah dibuat gelap dan remang, sehingga perhatian dapat terfokus pada panggung. Pertunjukan memang belum dimulai, dalam suasana gelap ini aku terbayang gadis tadi. Bullying memang parah, aku jadi teringat kasus yang pernah kutangani dulu. Kasus ketika aku masih muda, dan ditugaskan di suatu desa untuk tugas calon dokterku untuk mengobati secara gratis. Kasus tentang seorang gadis sekolah yang mungkin seumuran dengan gadis tadi, yang gagal kutangani dan akhirnya mengakhiri hidupnya. Masih teringat juga tangis ayah ibunya yang kehilangan putri mereka dan terus menyalahkanku sehingga seniorku memaksaku pindah. Bahkan yang kudengar dari seniorku yang masih bertugas disana, ibunya masih membawa kacamata putrinya kemana- mana sampai sekarang. Sungguh hal yang membuatku agak tidak bisa menikmati pertunjukan opera ini dengan tenang.

Pertunjukan ini seperti yang kuduga sangat bagus. Banyak pemeran adalah pemain lama yang sering kulihat sebelum kebakaran, namun beberapa pemain nampaknya baru. Aku tidak ingin berpikiran buruk tentang kemana beberapa pemain yang tidak kulihat, kuharap mereka masih baik- baik saja. Setelah satu jam lebih, pertunjukan selesai. Penonton bertepuk tangan dengan meriah setelah semuanya selesai. Namun ada yang berbeda pada pertunjukan sekarang, setelah pertunjukan kami para penonton diminta mengheningkan cipta dan mendoakan para korban dari kebakaran yang telah terjadi, dan berharap itu tidak terulang kembali. Aku melihat foto dan nama korban, sekedar untuk memastikan rasa penasaranku terhadap nasib pemain- pemain yang tidak kulihat. Sebuah wajah yang tidak asing juga ada disana, wajah gadis yang tadi baru saja kutemui, dan namanya tertulis disana sebagai pemusik latar yang menjadi korban meninggal pada kebakaran itu, Melodia. Aku agak tidak percaya, dan agak merinding. Setelah semua selesai dan aku keluar bersama penonton aku kembali ke tempat tadi aku melihat gadis itu. Gadis itu sudah tidak ada disana. Aku mencoba berpikir tadi semua adalah halusinasiku, dan akhirnya pulang.

Keesokan harinya aku kembali masuk kerja seperti biasa. Masih ingat jelas aku tentang yang semalam kutemui, bahkan wajah pucatnya terbawa di mimpiku. Aku masih merinding setiap kali memikirkan kembali hal itu, namun aku mencoba bersikap seperti biasa dan bersiap untuk pasien pertamaku hari ini. Pintu diketuk dan kupersilahkan pasien masuk. Lalu aku melihat gadis itu lagi sekarang didepan mataku. Aku masih merinding, apakah dia menghantuiku.
“Dokter, ada apa? Ini putri saya, dia seperti ini sejak saudara kembarnya meninggal dalam kebakaran di Gedung Opera kota, akhir- akhir ini dia semakin parah dokter, saya mengajaknya kesini karena tidak ingin dia bertambah parah”. Mendengar hal itu, aku menjadi tenang dan dapat bersikap seperti yang seharusnya. Maka aku melakukan sesi terapi seperti biasanya, dan pertanyaan- pertanyaan untuk lebih mengetahui tentang kondisi dari gadis ini lebih jelas. Setelah semuanya selesai maka aku membahas semuanya dengan ibunya.
“Ibu, saya sarankan untuk putri ibu tidak diajak dahulu dan dijauhkan dari tempat yang dapat mengingatkannya kepada saudara kembarnya. Hal ini karena akan membuatnya memburuk, nanti ketika putri ibu sudah membaik baru dapat diajak kembali ke gedung opera tersebut” Kataku sebagai nasihat kepada ibunya.
“Betul Dok, saya sudah menjauhkan putri saya dari sana”.
“Namun, kenapa kemarin saya bisa bertemu dengan putri Anda di gedung opera ya Bu?”
Wanita itu sekarang bingung, dan nampak tidak percaya dengan yang baru saja kukatakan.
“Tidak mungkin dokter, kemarin dia bersama saya seharian bahkan saya menemaninya saat tidur”.
Seketika aku kembali merasa merinding, dan kembali bingung tentang semua ini.
“Terimakasih dokter mau membantu saudaraku” kata suara yang tiba- tiba lewat ditelingaku, suara yang sama dengan suara yang kemarin menunjukkan arah toilet padaku.

Share jika Anda tertarik: