they talk about pandemy

Kata mereka tentang Pandemi

Sebelum aku mencoba bertanya kepada mereka, sebenarnya aku sudah menebak apa yang akan mereka katakan tentang pandemi ini. Mungkin hal ini senada juga dengan yang kalian pikirkan. Sebuah penyakit yang nampak semu, namun terus digaungkan dan membuat takut bagi segelintir orang. Selain dari itu, mereka yang lain sudah mulai bosan dan muak untuk mengikuti. Namun aku tidak ingin membicarakan apa yang kebanyakan orang katakan soal pandemi ini. Bukan karena aku tidak peduli atau moralku sudah mati, aku hanya tidak ingin memperburuk keadaan.

Aku juga menangis saat mendengar kata- kata seorang ibu yang ditinggalkan suaminya, dan dirumahkan semasa pandemi. Anaknya yang masih dia gendong juga ikut menangis, mungkin dia kelaparan. Aku juga terharu saat seorang anak bercerita tentang pemakaman ayahnya yang menurutnya tidak layak, hanya karena almarhum ayahnya dianggap menderita penyakit ini. Itu bukan pilihan ayahnya, bukan? Atau saat seorang pengusaha dengan kalung emas, dan sabuk emas yang melingkari perut tambunnya berkata kepadaku tentang kerugian perusahaannya yang membuatnya merumahkan hampir semua pegawainya. Sesekali saking kesalnya, dia mengetuk- ngetuk meja dengan cincin di kesepuluh jarinya satu- persatu, yang aku tidak tahu batu cincinnya dari apa. Aku tidak ingin membahas hal – hal seperti itu.

Aku ingin menceritakan tentang seorang pemuda yang bisa kalian sebut beruntung. Disaat beberapa kawannya dirumahkan, karna kerja keras dan ketekunannya dia terhindar dari itu semua. Memang pemuda itu harus bekerja keras lebih dari sebelumnya, karena ia juga takut bernasib seperti teman- teman seperjuangannya. Tidak cukup berhenti disitu, dia juga berhasil melunasi hutang yang telah dipupuk ibunya sejak dia sekolah dasar, kira- kira berarti hampir 20 tahun lamanya. Mungkin jumlahnya tidak seberapa dibandingkan yang kalian pakai untuk makan di restoran mewah. Namun hal itu sudah membuatku takjub dan terheran- heran bagaimana dia melakukan itu semua di masa sulit ini. Kerja keras dan menahan malu, katanya. Temannya sedikit, waktu lebih baik ia gunakan untuk mencari sampingan, dibanding berkumpul dan sekadar bergosip membicarakan mereka yang tidak hadir. Perkataannya serasa menonjok diriku.

Aku juga ingin menceritakan tentang seorang anak, dimana menurutnya pandemi ini adalah masa terbaik sepanjang hidupnya. Kuharap kalian tidak menyalahkan pandangannya, ini adalah pandangan seorang anak yang dengan polosnya berkata padaku. Dia bilang akhirnya dia bisa bersama ayah dan ibunya, dimana selama ini dia bahkan tak bisa bersama mereka saat hari libur nasional. Itu sederhana, bukan seperti yang banyak anak- anak jaman sekarang minta. Mungkin menurut kalian ini karena dibandingkan dengan anak kebanyakan, anak ini sudah punya segalanya, hal itu juga tidak salah. Matanya yang berkaca- kaca membuatku merenung, mungkin karena aku juga memahami apa yang dia katakan dan pernah merasakannya.

Aku juga ingin menceritakan tentang seorang Bapak, yang mendirikan sebuah rumah makan untuk semua orang bisa makan tanpa membayar di masa pandemi ini. Menurutku ini sebuah ide gila disaat masa sulit seperti ini. Dimana orang kebanyakan justru lebih banyak menimbun hartanya, dan ketakutan jika besok semua itu habis. Bapak ini berkata, apa yang kau berikan dengan ikhlas dari kerja kerasmu yang halal, tidak akan mengurangi apa yang kau punya. Aku hanya mengangguk mendengarnya, namun sebenarnya aku takjub. Sebuah kata sederhana, yang kuharap didengarkan oleh mereka yang bahkan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri bahkan di masa sulit ini. Beberapa pengunjung yang mendengarnya juga memandangnya takjub, sambil melanjutkan menyantap hidangan mereka.

Aku tidak menyalahkan jika kalian berkata masa ini adalah yang terburuk. Aku juga tidak akan menyalahkan jika kalian menolak apa yang mereka sampaikan. Itu adalah yang mereka alami, dan pastinya berbeda dengan kalian. Karena itu adalah kata- kata mereka.

Share jika Anda tertarik: